Rabu, 26 Januari 2011

Ngelmu, Ngalim dan Ngulama

Ilmu adalah bahasa arab. Lidah wong jowo paling susah ngucap hurup ‘ain. Biasanya dibaca menjadi ngain. Maka jadilah masup dalam basa jawa menjadi ngelmu. Sedangkan ngelmu itu sendiri secara gathuk enthuk diartikan sebagai ‘aNGEL tineMU’ atau susah didapat. Karena syarat untuk mendapatkannya memang cukup berat.
Dalam ajaran agama, ngelmu terdiri dari dua bagian, yakni data/informasi dan aplikasi. Kedua-duanya harus ada jika mau disebut alim atau orang berilmu. Sedangkan bentuk jamak dari alim adalah ulama. Maka ulama adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan, informasi, atau teori serta mau mengamalkannya.
Iblis tidak masup dalem katagori alim, walopun dia memiliki banyak ilmu. Mengapa? Karena dia hanya menguasai satu bagian saja, yakni ‘data/informasi’. Sedangkan aplikasi dia gak punya. Informasi dan aplikasi ini seringkali dibahasaken dengan istilah lain, yaitu teori dan praktek.
Jika sampeyan melihat atau mendengar seseorang lulusan Universitas Madinah dengan gelar ‘Lc’ (sampe sekarang kepanjangannya simbah gak tahu), maka jelas dia adalah orang yang menguasai informasi di bidangnya. Tapi tentang aplikasinya mbuhraruh. Jadi apakah orang bertitel Lc itu pasti alim?? Belum tentu. Yang jelas dia lebih ‘tahu’ perihal apa yang menjadi bidang kajiannya. Ha wong genah bertahun-tahun dia mbaca buku-buku tentang bidang tersebut, sekian SKS dia lahap, dan sekian ujian dia lewati. Tentu saja tiap kali mau ujian dia ngapalken materinya, ngulang-ulang teorinya sampai nglothok di utek.
Sayangnya saat ini kriteria alim wal ulama ini hanya menyandarkan pada penguasaan data/informasi. Makin banyak hapal ayat dan hadits sudah dikategorikan ulama. Padahal hapalan hanyalah bagian kecil saja dari ilmu. Karena ini menjadi pokok, maka orang menilai ilmu hanya dari ukuran kemampuan seseorang menguasai informasi. Makin hebat otaknya menyimpan data, makin dianggep alim lah dia.


Padahal kalo dalam hal menyimpan dan mengolah data/informasi, otak manusia telah berhasil menciptakan alat penyimpan data/informasi yang lebih hebat dari otak manusia itu sendiri. Sekarang sudah ada software yang bisa menyimpan ratusan bahkan ribuan kitab dalam satu keping disk kecil. Kita hanya tinggal masupin keywords, lalu klik search… ketemu sudah lokasi ayat, hadits dan keterangannya, bahkan alamat dan judul kitabnya komplit.
Kalo penguasaan data/informasi ini menjadi pokok dalam menentukan kriteria alimnya seseorang, maka jelas disk kecil tadi adalah yang paling alim. Maka untuk ini Allah memberikan penjelasan (lihat surat Jumuah), bahwa seseorang yang menguasai sekian data dan informasi baik itu tentang Al Qur’an, Hadits berikut ilmu alatnya namun miskin aplikasi, maka itu ibarat keledai yang kesono kemari sibuk manggul kitab. Kitabnya ratusan, tapi si pemanggul tetap saja bodoh dan tetep saja keledai, tidak lantas menjadi ngalim.
Sayangnya model ngalim ngulama yang seperti keledai itulah yang sekarang lebih banyak ditahbiskan menjadi panutan masyarakat. Hanya seorang penguasa data dan informasi yang miskin aplikasi. Sedangkan masyarakat yang sudah giat beramal, hanya karena tidak bisa menyebutkan ayat berapa dan di surat berapa dia mengamalkan amalannya itu dianggap sesat, beramal tanpa ilmu dan dicap bidah. Dalam otaknya yang mampu menampung gigabyte data itu menganggap, bahwa semua otak kemampuan hapalannya seperti dan -harus seperti- dia. Kali aja dia terlalu sibuk tinggal di kalangan ‘alim kibarul ulama, masyaikh yang mukarrom, sehingga miturut dia, semua manusia harus menjadi seperti mereka kemampuan otaknya.
Lha simbah pernah ketanggor ngajar embah-embah yang sudah mambu lemah, yang waktu itu baru terbuka hidayahnya mau latihan sholat. Ngajari basmalah saja sampe bibir ndower wal meniren. Bolak-balik diajari tetep saja yang terucap bukan ‘bismillah’, namun dengan pasih yang terucap adalah ‘semilah’. Belum lagi ucapan hamdalah jadi ‘ngalkamdulillah’. Belum lagi latihan duduk tahiyat akhir, lha balung tuwekan disuruh nekuk-nekuk… weh simbah malah mau dipancal.
Beberapa orang memiliki keterbatasan dalam hal menyimpan data informasi di otaknya. Ada yang dalam hitungan gigabytes, tapi ada juga yang cuma kilobytes. Tapi kalo memang amalannya jos gandos, bener dan syar’i, ya gak usahlah mereka dipaksa harus menguasai bagian ilmu yang berupa data/informasi. Cukup data/informasi sederhana, namun aplikasinya sempurna. Itu lebih mantabh dan apdhol daripada data/informasinya top markotob, tapi aplikasinya bed markebed alias jelek wal jeblok.
Terus terang, saat ini sudah terlalu banyak ngulama kelas penguasa data/informasi ini. Bukannya gak perlu, tetep perlu. Karena data/informasi itu mendahului aplikasi. Tapi kalo lantas semuanya miskin aplikasi, gak ada amal nyata, itu malah cuma bikin mual muntah saja karena jenuhnya. Terus terang juga… dengan menulis postingan ini simbah juga baru pinter ngolah data/informasi. Sampeyan sama sekali belum melihat aplikasi disini. Mangkanya, biar dunia ini tidak makin sumpeg dijejali ngulama kelas keledai… marilah kita ngamal sholeh bareng-bareng…!!

0 komentar:

Poskan Komentar